Corona: we only need to survive

Satu pertanyaan yang terus menerus hadir di benak saya, mungkin juga di benak banyak orang, sehingga menjadi salah satu Google top searches akhir akhir ini: “kapan corona akan berakhir?”

Tidak ada jawaban. Hanya Allah yang tahu. Saat ini, berbagai hal tentang corona, hanya prediksi yang sifatnya masih sementara. Apakah keadaan bergerak membaik? Apakah masih akan terus memburuk? Sampai kapan? Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.

Tidak mudah berteman dengan ketidakpastian. Pandemi ini, bukan saja ancaman terhadap kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Rutinitas berubah. Banyak rencana yang terpaksa berubah. Rasa curiga. Takut. Dan lain sebagainya.

Belum lagi pembatasan sosial. Si ekstrovert jelas kehilangan sumber energi-nya. Si intorvert, awalnya senang karena merasa memiliki lebih banyak waktu untuk berdiam diri. Namun lama kelamaan jenuh juga karena aktivitas sendiri pun tak sebebas dulu. Pada dasarnya, kita semua sedang dihadapkan pada kondisi tidak ideal, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Kita manusia, makhluk sempurna yang diciptakan mampu beradaptasi

Wabah adalah siklus alam yang sudah ada sejak dulu

Pandemi ini bisa dibilang pertama kali untuk kita yang masih hidup. Tapi sebenarnya istilah “wabah” bukanlah sesuatu yang baru bagi dunia. Corona sama sekali bukan yang pertama. Majalah Washington Post mencatat bahwa dalam 1 abad terakhir saja sudah terjadi sekian banyak wabah mulai dari wabah HIV/AIDS di tahu 1981, wabah Ebola, SARS, MERS, Flue Hongkong, Flue Asia, Di abad pertengahan bahkan ada wabah yang disebut sebagai “Black Death” yang menghabiskan korban jiwa setara 1/3 benua Eropa.

Mungkin saja, corona ini adalah siklus yang memang diperlukan bumi.

Mungkin saja, dunia memang sedang butuh jeda.

Mungkin juga, ini adalah sebuah proses seleksi alam. Dan sebagaimana prinsip seleksi alam, makhluk yang bertahan adalah makhluk yang memiliki kemampuan beradaptasi.

Ingatkah kita dengan janji Allah, bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk? Kita diberi kemampuan beradaptasi, diberi kemampuan bertahan dalam keadaan tidak ideal. Kita diberi iman, untuk percaya, janji Allah pasti ada. Bersama kesulitan ada kemudahan. Dengan iman pula, sebagai manusia kita percaya bahwa Allah mempersiapkan diri kita dengan amat sempurna, untuk bisa membangun dunia dalam kondisi apa pun. Di tengah ketidakpastian, kita masih bisa membuat bermacam kepastian kecil untuk beradaptasi. Atau, dalam bahasa lain, kita harus fleksibel.

Di dalam situasi ini, fleksibilitas saja apa yang perlu kita miliki?

Fleksibilitas pola pikir

Jangan berpikir untuk tetap hidup “seperti biasa.” Untuk tetap ceria seperti biasa. Untuk tetap produktif seperti biasa. Tidak pernah ada orang yang hidup seperti biasa di tengah bencana. Pandemi ini harusnya mengajarkan kita untuk berpikir lebih logis. Untuk paham keadaan, dan beradaptasi. Kita masih diberikan kesehatan, rumah untuk tinggal, dan bisa berkesempatan tetap bekerja dari rumah adalah privilege yang tidak bisa didapatkan semua orang. Selesailah untuk komentar-komentar seperti:

“Subsidi listriknya cuma untuk 450, nggak ngaruh buat aku”

“Gaji 13 dihilangkan, terus lebaran mau gimana?”

“Gak bisa sholat jumat di masjid, gak afdhol”

“Work From Home itu susah banget, enakan kerja di kantor”

Coba ganti presepsi tadi dengan: kita bukan sedang dituntut untuk “hidup biasa” seperti sebelumnya, kita dituntut untuk bertahan. Bertahan dalam jangka waktu yang kita tidak tahu berapa lama. Bertahan dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

Coba ganti persepsi dengan: bukan mana yang ideal (menurut kita), tapi mana yang lebih banyak manfaatnya.

Mana yang lebih banyak manfaatnya:

Menyelenggarakan acara dengan massa banyak sekalipun acara baik, atau menunda dulu atau menggantinya dengan acara tanpa melibatkan masa?

Tetap melaksanakan sholat jumat dengan segala risikonya, atau mengikuti fatwa ulama untuk sholat di rumah saja, berusaha mendengarkan ceramah dari media lain?

Menyebarkan informasi tapi mengundang kekhawatiran atau diam sejenak?

Berangkat ke kantor seperti biasa, atau berusaha sebaik mungkin bekerja dari rumah meski sedikit “lebih tidak produktif” demi memutus rantai penyebaran corona?

Fleksibilitas dalam mengatur ekspektasi dan cita-cita

Siapa yang tidak kecewa, resolusi yang sudah tersusun rapi di awal tahun 2020 satu persatu harus mulai dihapus. Tapi, perlu dicatat bahwa bisa jadi mimpi-mimpi yg tertunda itu hanya satu dua target utama yang teratas. Masih ada mimpi-mimpi lain, yang mungkin terkubur lama karena padatnya rutinitas, dan kini saatnya diwujudkan.

Pasti banyak dari kita yang setiap tahunnya menargetkan untuk meningkatkan iman dan beramal lebih banyak? Inilah waktunya. Kamu bisa membaca kitab lebih sering, bersujud lebih sering, dan berdonasi lebih sering. Atau sesimpel merealisasikan target untuk memiliki jadwal tidur lebih teratur? Ini waktunya.

Waktu yang terasa berjalan lebih lambat inilah kesempatan kita untuk berpikir lebih tenang, mana sih yang lebih prioritas untuk dicapai dalam hidup? Apakah rutinitas-rutinitas itu? Atau yang lain? Saatnya introspeksi dan mendesain ulang tujuan hidup kita.

Fleksibilitas dalam interaksi sosial

Ingat istilah social distancing yang akhirnya diralat jadi physical distancing? Istilah ini diralat karena sebenarnya yang harus kita batasi bukannya interaksi sosial, tapi interaksi yang melibatkan pertemuan fisik.

Karena memang sejatinya kita adalah makhluk sosial, maka cobalah tetap membangun ikatan sosial yang baik (tanpa kontak fisik). Coba deh ganti nongki-nongki di cafe menjadi chatting/video call/saling kirim hadiah. Memang berbeda, memang tidak ideal. Tapi bukankah hidup ini memang tentang persepsi?

This is not a productivity contest, this is a pandemic

Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan orang-orang yang menggunggah “aktivitas-yang-bisa-dilakukan-di-rumah-agar-tetap-bahagia.” Dimulai dari mencoba resep hits kekinian dalgona coffee, membuat video tik tok, mencoba melukis untuk pertama kali. Seolah olah menyiratkan pesan (trust me, it’s a good intention) bahwa kita semua bisa tetap produktif dan bahagia di tengah kondisi ini.

Bagus, hanya sekedar ingin mengingatkan: this is not a productivity contest, this is a pandemic, It’s okay not to be always productive during a pandemic.

Cobalah baik pada diri sendiri. Kita semua sedang khawatir, sedang berusaha beradaptasi dengan situasi yang memang tidak ideal. Jangan tambah tekanan pada diri sendiri untuk selalu produktif mengisi waktu #dirumahaja. Jangan memaksa untuk beraktivitas seperti bulan-bulan sebelumnya. Ingat, kita hanya butuh bertahan.

Menjadi produktif bisa menjadi “obat”, tapi jangan dipaksa.

Bukan berarti melakukan “aktivitas-yang-bisa-dilakukan-di-rumah-namun-tetap-bahagia” diatas adalah solusi buruk, tapi jangan memaksa diri untuk selalu produktif dan ceria. Setiap hari. Setiap saat. Tidak apa-apa berhenti sejenak, tidak apa-apa merasa khawatir dan overwhelming. Tidak apa-apa jika ada pekerjaan yang tidak selesai hari ini. We’re in the middle of a crisis.

Mungkin kita merasa lebih baik setelah berhasil membuat dalgona coffee (yang harus diaduk sampai lebaran itu) atau merasa lebih baik setelah menyelesaikan lukisan pertama (ternyata aku anak teknik tapi berbakat melukis)… Tapi jangan kaget kalau besok kita merasa melakukan hal-hal itu tidak lagi membantu. This is a one-day-at-a-time kind of experience. Di masa-masa tidak pasti ini, it is okay not to be okay. Be flexible to yourself.

Selamat bertahan. Jangan lupa sembari bertahan, rangkul sebanyak-banyaknya orang di sekitar kamu untuk juga ikut bertahan. Allah menyayangi kita semua.

 

Hasil bertukar pikir dengan Nabila Amini

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

About Me

About Me

A story teller. A student. An UI/UX engineer. Currently pursuing a master degree in Eindhoven University of Technology. Passionate in computer technology, human thinking, and its interaction.

Follow me on