Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini: Dinamika keluarga yang so~ relatable

Sinopsis

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKTCHI) bercerita tentang perjalanan hidup sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Sekilas tampak dari luar, keluarga ini adalah gambaran tipikal keluarga ideal. Lengkap dan berkecukupan. Sang Ayah bertanggung jawab dan memiliki karir bagus. Ibu yang begitu mengayomi. Tiga anak yang berpendidikan dan sukses. Angkasa, anak laki-laki pertama yang bisa diandalkan. Anak kedua Aurora, gadis berbakat dan penurut. Dan Awan, si bungsu yang selalu ceria, pusat dunia.

Seperti menemukan refleksi diri di karakter dan jalan cerita

Satu hal yang membuat film ini membekas bagi saya adalah karena ceritanya super duper relatable. Seperti menemukan kisah sendiri di tiap-tiap adegan. Menemukan diri sendiri di karakter-karakternya yang kuat.

Menyimpan “sedih” demi “bahagia”

Puncak konflik di film ini adalah ketika terungkap bahwa sang Ayah yang selama ini digambarkan keras (dan cenderung otoriter) menyimpan rahasia besar. Ayah selama ini “memaksa” Ibu dan Angkasa, yang saat itu masih berusia enam tahun, untuk merahasiakan kematian anak keempat mereka, saudara kembar Awan, dari anak yang lain (Aurora dan Awan). Fakta ini menjelaskan sosok Ibu yang kerap menangis dan menjadi amat pendiam setelah kelahiran Awan. Juga sikap overprotektif Ayah, Ibu, dan Angkasa terhadap Awan.

Sang Ayah beranggapan bahwa ingatan akan kematian sang adik hanya akan membawa sedih bagi anak-anaknya. Ayah membuat keputusan (yang dianggap adalah keputusan terbaik saat itu) untuk mengubur rapat-rapat fakta bahwa mereka memiliki anak keempat. Ayah membuang tempat tidur bayi yang sudah disiapkan. Meminta ibu membuang baju-baju yang terlanjur dibeli (meski Ibu diam-diam menyimpan satu kaos kaki yang selalu dipeluknya tidur sambil menangis). Menyuruh Angkasa diam. Dengan dalih; hidup masih panjang, mereka fokus membesarkan tiga anak yang hidup.

Ternyata keputusan itu tidaklah tepat. Malah mengundang konflik tak kasat mata berkepanjangan. Awan merasa terlalu dikekang. Aurora merasa terasingkan. Angkasa yang lelah atas doktrin “kakak harus selalu menjaga adik-adik” membuka rahasia itu. Luka lama akhirnya terbuka. Lebih menganga, malah. Angkasa merasa rahasia itu tidak adil bagi mereka. Aurora dan Awan histeris minta penjelasan. Berikut adalah line favorit saya dari fragmen tersebut.

Bagaimana rasanya bahagia, jika sedih aja gak tahu rasanya gimana.

— Angkasa

Sebagai anak pertama, saya merasa dekat dengan dilema itu. Ayah yang sering kali mencoba meredam masalah, menganggap anak-anak tak perlu tahu. Anak pertama yang paling besar, yang sudah sedikit banyak mengerti, sedikit banyak jadi ikut mengemban rahasia. Belum lagi, ungkapan “jangan bersedih”, “jangan menangis”, yang sering kali diucapkan orang tua pada anak (khususnya anak pertama), dengan alasan sang kakak harus bisa menjadi contoh untuk adik yang lebih kecil. Harus lebih kuat. Harus lebih tegar. Mengesampingkan bahwa perasaan manusia tidak bisa diatur dengan tombol. Beranjak dewasa, saya tumbuh dengan menutup rapat-rapat perasaan sedih, agar tampak bahagia. Menutup rapat-rapat masalah, sampai masalahnya selesai. Ada satu perkataan Angkasa yang sangat menyentuh saya: “Bagaimana bisa mengerti bahagia, jika tidak pernah boleh mengenal sedih?”.

Si Sulung, Si Bungsu, dan Si Antara

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Dari keluarga lah kepribadian anak dibentuk. Tidak bisa dipungkiri bahwa (meski tidak berlaku bagi semua keluarga), pengkotak-kotakan antara si anak sulung, si bungsu, dan si tengah berdampak bagi pribadi sang anak.

Si Sulung dengan tanggung jawab “ke-kakak-an” tumbuh menjadi “sang pemimpin”; self-driven, tapi tertutup. Anak bungsu adalah pusat perhatian, selalu menjadi yang “paling kecil” dan paling butuh bantuan. Membuat yang lain, (terutama si tengah) merasa dikucilkan. Merasa dianggap tak ada di keluarga.

Saya dua bersaudara. Anak sulung, meski bukan sulung laki-laki. Melihat Angkasa acapkali seperti melihat diri sendiri. Flashback masa-masa dimana dimarahi karena pulang sendiri dari masjid, tidak pulang bersama adik. Masa dimana tidak apa-apa jika saya yang pergi ke toserba sendiri, sedangkan jika adik ingin ke toserba, harus saya temani. Masa bertanya-tanya kenapa saya disekolahkan di sekolah berasrama sedangkan adik merengek-rengek minta (asrama) tapi tidak diperbolehkan.

Kadang pula saya melihat sosok Aurora. Yang penyendiri. Yang penuh iri. Yang menganggap sudah “hilang” dari keluarga. Dan mencari-cari cara untuk benar-benar hilang.

Dan saya benar-benar melihat Awan di adik saya. Selalu diperhatikan, padahal anaknya maunya kabur. Selalu dianggap paling kecil dan tidak bisa apa-apa, sehingga ingin sekali membuktikan dirinya bisa.

Tidak punya masalah finansial bukan berarti tidak punya masalah

Di NKTCHI, keluarga Narendra digambarkan sebagai keluarga berkecukupan dari segi finansial. Dari kacamata saya sebagai penonton, film ini mencoba menyampaikan kritik sosial terhadap pola asuh orang tua Mapan di Asia. Benar atau tidak kalau orang-orang Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan punya obsesi yang begitu besar ke anak-anaknya untuk sukses di bawah pengawasannya, dengan cara mereka. Mereka (Orang Tua Mapan) sering fokus memenuhi kebutuhan fisik anak seperti sekolah, pakaian bagus, fasilitas belajar. Narendra (orang tua mapan) mengganggap dengan memberi jalan kesuksesan tanpa penderitaan dan dicukupi kebutuhan setiap anak akan bahagia. Setidaknya ini yang saya tangkap dari setiap scene yang ditampilkan dalam film NKCTHI.

Tapi keluarga yang “cukup” secara finansial bukan berarti tidak memiliki masalah.

Menonton NKTCHI membuat saya teringat dengan masa-masa SMA dahulu. Suatu ketika saat sesi konseling di sekolah, saya mendapat sesi paling singkat karena dianggap lancar dalam akademik, berasal dari keluarga yang utuh dan harmonis, dan tidak memiliki kendala ekonomi. Lembaran hasil bimbingan konseling merujuk bahwa saya tidak punya masalah.

Tapi justru tipikal masalah keluarga “ideal dan berkecukupan” lebih kompleks dari sekedar nilai yang turun atau belum membayar SPP. Masalahnya adalah mereka tidak benar-benar saling “berbicara”. Orang tua, dengan berbagai cara, meredam masalah agar anak-anak “bahagia”. Anak-anak tidak pernah protes karena semua kebutuhan kasat mata selalu “tercukupi”. Tidak berani berkeluh kesah karena dalam perspektif sosial, mereka “keluarga ideal”.

Kasih sayang di balik kerasnya Ayah dan diamnya Ibu

Film ini ditutup dengan ending yang menenangkan, dimana keluarga berhasil melewati masalah dan mencoba mengerti pola pikir satu sama lain. Sang anak sadar bahwa kerasnya Ayah dan diamnya Ibu adalah bentuk kasih sayang. Sang orang tua berusaha lebih mendengarkan anak.

A little bit of technical review: The soundtracks are amazing, but overexposed

Saya bukan ahli perfilman, maka saya tidak akan berbicara banyak tentang teknis filmografi. Sebagai penonton, saya bisa bilang bahwa soundtrack film ini super ngena. Bahkan menurut saya, mayoritas lagunya memiliki penggalan lirik yang 100% pas dengan cerita.

Sayangnya, ketika dimasukkan ke dalam adegan, lagu-lagu tersebut diberikan tempat dan porsi yang berlebihan, cenderung overexposed. Sehingga di beberapa bagian, saya mendapat seperti sedang sedang mendengarkan Spotify alih alih tengah menonton film.

Take Away

Bukan tentang benar atau salah

Pesan dari film ini bukanlah untuk mengajarkan mana yang benar, mana yang salah. Menurut saya, pesannya bukanlah untuk mempertontonkan “susahnya menjadi orang tua” atau “pola didik seperti ini salah, seperti itu yang benar”, tapi NKTCHI adalah ajakan untuk menyelami diri sendiri (dan keluarga kecil kita). Setiap keluarga memiliki “rahasia”, memiliki “bahagia” dan “tidak bahagia” masing-masing.

Saya sudah membuktikan sendiri dengan mengajak keluarga saya menonton film ini. Setelah itu, film ini bisa membuka ruang diskusi. Saling introspeksi, saling mendengarkan. Saling berterima kasih dan meminta maaf.

Hari ini akan jadi cerita di masa depan, tugas kita (manusia) adalah belajar dan terus berjalan

Kehilangan, kegagalan, sakit, pertengkaran, adalah hal-hal yang tidak mengenakkan namun pasti terjadi di hidup kita. Menghindar, mencoba menutupi-nutupi tidak akan menghilangkan perasaan “tidak enak” itu. Langkah pertama untuk bangkit dari masalah adalah dengan menghadapinya. Langkah pertama untuk sembuh dari luka adalah dengan mengiyakan sakit.

Sesuai dengan judulnya, film ini berpesan bahwa; apapun yang terjadi saat ini (bahagia atau tidak bahagia, rahasia atau tidak rahasia) akan menjadi cerita di masa depan. Tugas kita sebagai manusia adalah untuk terus berjalan, dan berusaha “menuliskan” cerita yang lebih baik di tiap harinya. Nanti, kita akan cerita tentang hari ini.

Apakah kita ini, manusia?
Yang dalam riang, ringkih, rumit dan terhimpit
Ada bahagia tidak bahagia
Ada disini ada disana
Ditikam-tikam rasa
Kita berjalan saja masih terus berjalan
Meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini
— Lagu Pejalan (Sisir Tanah)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

About Me

About Me

A story teller. A student. An UI/UX engineer. Currently pursuing a master degree in Eindhoven University of Technology. Passionate in computer technology, human thinking, and its interaction.

Follow me on