Positivity Bias di Sosial Media: Apakah Kita Benar-benar Terhubung?

Saya bukan anak beken sosial media. Jarang update, bahkan sama sekali tidak punya akun di beberapa platform. Alasannya sederhana, merasa tidak butuh. Kemudian, saya tiba di suatu keadaan dimana saya tinggal jauh di negeri antah berantah dan sulit bertukar kabar. Desakan teman-teman membuat saya masuk ke dunia sosial media paling hits kekinian jaman now (sebut saja Instagram), dengan satu alasan: sosial media memudahkan kita bertukar kabar, dan terhubung satu sama lain.

Setelah sebulan di dunia per-Instagram-an, satu gundah muncul di benak saya. Semua update yang saya temukan (dan saya post juga, tentunya) adalah tentang hal-hal positif. Foto-foto indah, pengalaman positif, senyum-senyum, bahagia-bahagia. Sadar atau tidak, kita cenderung hanya menampilkan sisi positif hidup kita di sosial media; Positivity bias. Kalau sudah begini, apakah Instagram membuat benar-benar kita terhubung satu sama lain? Atau kita hanya merasa terhubung dengan sisi positif hidup seseorang, padahal kita tidak benar-benar tahu kabar seseorang dan hanya berasumsi atas status positif mereka?

Di kuartil ini ada satu mata kuliah berjudul “Social Media and Life Online” (selengkapnya nanti baca Bedanya Kuliah di Belanda). Satu research menyinggung tentang Positivity Bias dan bagaimana kita, para netizen, merasa terhubung satu sama lain lewat positive sharing di sosial media.

Apa itu positivity bias?

Observasi pribadi saya, terhadap diri sendiri dan timeline pribadi menunjukkan bahwa fitrah manusia untuk menunjukkan sisi terbaik dari dirinya (bisa juga diartikan dengan menyembunyikan sisi “negatif” dan “biasa” dari kehidupan mereka). Ini fitrah sosial, yang mungkin sudah terbentuk dari jaman baheula dimana ibu-ibu kompleks suka ngumpul di tukang sayur ngomongin sisi terbaik rumah tangga mereka.

Masalahnya, sosial media membuat semua tendensi positive sharing itu menjadi lebih mudah dan terdokumentasi. Berbagi kabar (positif) menjadi lebih mudah, tidak perlu menunggu momen lebaran, arisan, atau reunian. Kita bisa post kapanpun, ditambah lagi dengan melalui prosis edit dan filter beautification. Sosial media membuat ajang “positivity bias” ini semakin menjadi-jadi, melewati batasan ruang dan waktu.

Banyak research yang akhirnya mangangkat topik positivity bias – tendensi seseorang untuk hanya menampilkan sisi positif diri mereka di sosial media. Video berikut merupakan visualisasi ekstrim tentang bagaimana sebagian seseorang amat berusaha menampilkan sisi terbaik kehidupan mereka di sosial media.

Okay, mungkin visualisasi tersebut berlebihan. Mungkin yang paling banyak terjadi adalah kita tidak sebegitu berusaha menampilakan sisi terbaik di sosial media, tapi kita juga tidak akan membagi pengalaman negatif (kesedihan, kekecewaan) lewat sosial media. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: jika memang sosial media hanyalah tempat untuk berbagi kabar positif, apakah menghabiskan waktu untuk update di sosial media membuat kita otomatis “terhubung” dengan teman-teman?

Jika memang sosial media hanyalah tempat untuk berbagi kabar positif, apakah kita benar-benar terhubung lewat sosial media?

Teori Satu: Social Penetration

Teori pertama berdalih bahwa sosial media post (status, story) itu bersifat publik dan kurang intimate untuk menjaga hubungan pertemanan. Interaksi sesungguhnya justru tersembunyi di private message, sebagai follow up kabar yang disajikan di status.

In social media, relationship maintenance processes occur in hidden private messages.

Teori Dua: Capitalization

Pernah follow seseorang, biasanya public figure, dan kemudian merasa dekat hanya dengan mengikuti update mereka? Merasa terinspirasi?

Teori kedua mengklaim bahwa positive sharing memang meningkatkan rasa koneksi antar individu. Ditambah lagi, Gable dan Reis (2010) melaporkan bahwa sebenarnya kita mengalami kejadian positif lima kali lebih sering dari pada pengalaman negatif. Jadi, kalo dari pakai matematika, jika seseorang posting semua kejadian positif nya dan menyimpan semua pengalaman negatif, setidaknya kita bisa yakin kita tahu sekitar 80% kabar dia.

Positive events in people’s life occur five times more frequently than negative events. If someone post all of his positive experience, we’re connected to 80% of his live.

Teori Tiga: Humor

Penjelasan ketiga dan terakhir ini terkait dengan peran humor dalam sebuah hubungan (Treger et al., 2013). Orang yang menggunakan humor cenderung lebih banyak disukai, dan orang akan cenderung ngelucu pada orang yang mereka rasa dekat. Terkadang feed kita dipenuhi dengan update lucu (meme, dkk) yang sukses bikin ketawa sendiri. Ini jauh dari tentang berbagi kabar, tapi kita merasa dekat.

Efek humor ini menjelaskan kenapa cowok humoris selalu berhasil menaklukkan gebetannya (loh kok gak nyambung wkwk). Juga menjelaskan kenapa kita merasa dekat hanya dengan membaca entertaining status di sosial media.

If friends make us laugh, we might assume that they care about us, and this might further foster the connection.

Refleksi. Jaman telah berubah.

Ketiga teori diatas menjelaskan bahwa: yup, sosial media memudahkan kita terhubung dengan teman-teman kita, meskipun dengan ada tendensi positivity bias.Pengalaman menyenangkan yang dibagikan lewat sosial media membuat kita tahu kabar baik, yang kemudian bisa dilanjutkan di privat message, memberikan inspirasi, entertainment, dan humor. Namun, hanya sebatas itu.

Satu hal yang perlu diingat adalah, sebaik apapun hubungan yang terjalin lewat sosial media, tetaplah maya. Banyak yang tidak bisa tersampaikan dari sekedar like. Ada mimik spontan, tatapan mata, ekspresi ketika bercerita, pelukan. Semua tidak bisa sebanding dengan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar smartphone.

Keluarlah, berkenalan dengan orang, ajak mereka bicara tentang positif dan negatif kehidupan mereka. Berikan empati yang lebih dari sekedar tap to like. Berikan waktu, perhatian, dan pelukan. Ucapkan selamat atas pengalaman baik dan pelukan empati atas kejadian buruk. Sosial media mungkin membuat kita terhubung, tapi sekedar berkutat di Instagram feed tidak cukup membuat kita tahu keseluruhan cerita.

Sosial media mungkin membuat kita terhubung, tapi sekedar berkutat di Instagram feed tidak cukup membuat kita tahu dan peduli tentang keseluruhan cerita seseorang. Apalagi tentang teman sendiri.

Reference

Spottswood, E. L., & Hancock, J. T. (2016). The positivity bias and prosocial deception on facebook. Computers in Human Behavior, 65, 252-259.

Utz, S. (2015). The function of self-disclosure on social network sites: Not only intimate, but also positive and entertaining self-disclosures increase the feeling of connection. Computers in Human Behavior, 45, 1-10.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

Sliding Sidebar

About Me

About Me

A story teller. A student. An UI/UX engineer. Currently pursuing a master degree in Eindhoven University of Technology. Passionate in computer technology, human thinking, and its interaction.

Follow me on